Copas dari Group WA

Manusia tumbuh tidak dengan serta merta. Bayi kudu merangkak untuk bisa berjalan dan akhirnya berlari. Manusia harus mengenal angka bilangan nol sampai sepuluh untuk bisa berhitung sampai tak terbilang , dan akhirnya mengkalkulasi tentang tambah, kurang , bagi, sampai kuadrat, integral. Begitulah hakikat hidup sebagai sunatullah dimana tak ada bilangan bilangan besar tanpa nol. Karakter orang berkembang karena waktu. Tidak bisa langsung soleh dan bijak tanpa melalui proses.

*Intelektual development.*
Pada tahap awal , setiap anak manusia harus melewati pengembangan intelektual atau Intelektual development. Pada phase ini setiap orang *mengenal akan hak dan kewajibannya, menggapai prestasi, mendapat pengakuan pribadi di tengah lingkungannya.* Itu semua *diaktualkan bukan dengan retorika* tapi kemampuan seorang untuk menikah, punya rumah tempat tinggal atau engga numpang di mertua indah, punya pilihan karir yang jelas, dan lingkungan sosial. Proses ini sangat menentukan apakah seorang mampu melewatinya dengan baik agar sampai pada tahap berikutnya yaitu Emotion development.

*Emotion development*
Ketika orang sukses melewati phase intelectual development maka *emosinya lebih stabil melihat semua persoalan* kehidupan. Karena dalam proses mengembangkan intelectual mungkin dia harus menghadang resiko karena ketidak pastian dan kompetisi. Mungkin karena itu dia gagal dan terjatuh. Namun dia bangkit dan terus bergerak kedepan. *Semakin orang jatuh dan mendera kecewa semakin matang dia memasuki tahap emotion development.* Dia menjadi something karena waktu. Dia *tahu arti bersyukur dan tahu arti mencintai.* Pada phase emotion development ini orang semakin bijak, empati terbangun dan dia menjadi dewasa sesuai umurnya. Jadi kalau ada orang udah tua tapi tetap belum dewasa, bisa jadi di phase intelectual development dia cenderung memilih jalan aman dan karena itu dia tidak bisa menjadi apa apa dan bukan siapa siapa..

*Spiritual development.*
Apabila phase emotion development ini bisa di lewati dengan sukses maka sampailah ia di phase spiritual development. *Akalnya menguatkan iman,* dimana dia *bukan hanya berbuat baik dengan orang baik kepadanya tapi juga kepada orang yang membencinya.* Bukan hanya memaafkan orang yang memaafkannya tapi juga kepada orang yang enggan memaafkannya. Berteman dan bersilahturahmi bukan hanya kepada orang yang sering menyapanya tapi juga kepada orang yang enggan menyapanya. Pada moment ini, agama menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat. Agama dipandang sebagai ‘comprehensive commitment’ dan ‘driving integrating motive’, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Hasilnya dia akan *menjadi orang beragama yang memiliki Cinta.* Dia menjadi obor penerangan dan sumber mata air kehidupan.

*Bagi yang gagal* masuk ke phase Spiritual Development, karena pasti gagal melewati phase emotion development dan gagal di intelektual development. Baginya agama sebagai something to use but not to live. Dia berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. *Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status dan kekuasaan, cari uang mudah atau harga diri.* Orang yang beragama dengan cara ini, *melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama.* Ia puasa, Sholat, naik haji dsb, tetapi tidak didalamnya. Dia *hanya pencinta sorga* bukan karena dia mencintai Allah dan kehidupan tapi karena lebih mencintai dirinya sendiri…makanya dia doyan mengeluh dan menyalahkan siapapun. Imannya berubah jadi cemburu beragama dan paranoid. Sumber masalah bukan di luarnya tapi didalam dirinya sendiri karena gagal menjadi dewasa..Tua itu pasti pasti dewasa itu pilihan. Silahkan renungkan…

Saya tutup tulisan ini dengan comot puisi Taufik Ismail..:

*Kalau engkau tak mampu menjadi beringin*
*Yang tegak di puncak bukit*
*Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,*
Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul di pinggir jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya..
Bukan besar kecilnya tugas
Yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu..
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Pahamkan sayang.. ~intermezzo DDB πŸ™πŸΎπŸ˜Šβ˜•

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *